Daftar Acara Televisi:
Turangga adalah suatu gen dilusi yang mempengaruhi pigmen merah dan hitam dalam warna rambut dari seekor kuda. Gen turangga memperterang sebagian besar tubuh kuda menjadi tampak pucat kekuning-kuningan atau kelabu sementara bagian surai, ekor, dan kaki masih menampakkan pigmen asli kuda tersebut. Warna turangga diyakini sebagai warna leluhur liar dari kuda. DNA purba dari kuda yang pernah hidup sekitar 43.000 tahun silam, jauh sebelum kuda dijinakkan, membawa gen turangga dan gen lainnya. Nama dari Turangga menjadi inspirasi dari nama Kereta api Turangga, kereta api eksekutif yang melayani Surabaya Gubeng-Bandung dan sebaliknya.
Famili 100 (disingkat F100, sekarang dikenal dengan nama Family 100 untuk musim X) adalah salah satu program kuis paling sukses di Indonesia dengan jumlah penayangan mencapai 5.000 episode, yang diadaptasi dari kuis Family Feud dan Family Fortunes berdasarkan lisensi dari Fremantle Amerika Serikat dan Inggris. Dalam acara ini, 2 keluarga/kelompok berusaha untuk menebak jawaban yang terbanyak dijawab berdasarkan hasil survei kepada 100 orang. Dalam acara ini, adapun seruan populer yang disampaikan oleh pembawa acara (host) sebelum membuka jawaban dan poin adalah "survei membuktikan!".
Wali Sanga (lebih dikenal sebagai Wali Songo, Jawa: ; Wali Songo, "Sembilan Wali" (orang yang dipercaya)) adalah tokoh Islam yang dihormati di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, karena peran historis mereka dalam penyebaran agama Islam di Indonesia. Pembentukan Majelis Dakwah Walisongo di perkirakan terjadi antara tahun 1250 -1404 oleh Sultan-Sultan yang berkuasa dalam penyebaran agama Islam di suatu negara ke negara lain, biasanya terdiri dari 9 Anggota Majelis Dakwah Walisongo segera bergerak ke wilayah India, asia tenggara seperti Vietnam, Malaysia & Indonesia.
Berita ini tertulis dalam kitab kanzul'Hum dari ibnu bathutah, lalu dilanjutkan oleh Sunan Gresik & sekarang tersimpan dalam museum Istana Turki Istanbul
Perjalanan Periode Selanjutnya untuk berdakwah di pulau Jawa pada tahun 1404 dipimpin oleh Sunan Gresik sebagai Misionaris utusan Kesultanan Utsmaniyah dari Istambul Turki tentu membawa misi dalam penyebaran agama islam & mencari simpati juga dukungan atas peperangan saudara yang terjadi di negaranya dengan mendatangi wilayah Kerajaan Majapahit kala itu rajanya Baginda Prabu Wikramawardhana sebagai kekuatan terbesar di Asia tenggara pada jamannya.[referensi?]
Setiap anggota Wali Sanga saling dikaitkan dengan gelar Sunan dalam bahasa Jawa, konteks ini berarti "terhormat".Sebagian besar wali juga dijuluki Raden selama hidup mereka, karena mereka keturunan ningrat. (Lihat bagian "Gaya dan Gelar" Kesultanan Yogyakarta untuk penjelasan tentang istilah bangsawan Jawa.)
Makam (pundhen) para wali dihormati oleh masyarakat Jawa sebagai lokasi ziarah di Jawa sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih atas manfaat dan syafaat yang mereka amalkan pada masa hidupnya. Dalam tradisi Jawa makam memiliki istilah pundhen.
Pesanggrahan adalah rumah peristirahatan atau penginapan, biasanya milik pemerintah. Pada zaman kolonial, kata yang umum digunakan adalah 'pasanggrahan', terlihat dari dokumen-dokumen masa Hindia Belanda.
Sultan-sultan Yogyakarta dan sunan Surakarta banyak membuat pesanggrahan. Misalnya adalah Pesanggrahan Ambarketawang di Gamping, Sleman, Pesanggrahan Taman Sari dan Panggung Krapyak yang dibangun oleh Hamengku Buwana I; Pesanggrahan Rejowinangun, Ngarjokusumo, Purworejo, Wonocatur, Gua Siluman, Pengawatrejo, Cendonosari, Tanjungtirto, Sonosewu, Sanapakis, Tlogo Ji, Kanigoro, Toya Temumpang, Madya Ketawang dan Samas dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana II; sedangkan Sultan Hamengku Buwana VI membangun pesanggrahan Ambarbinangun di Tirtonirmolo, Bantul; Sultan Hamengku Buwana VII membangun Pesanggrahan Ambarrukma.