Daftar Acara Televisi:
Sunan Geseng, atau sering pula disebut Eyang Cakrajaya, adalah murid Sunan Kalijaga.
Menurut Babad Jalasutra, Ki Cakrajaya juga adalah murid dari R.Wasiwara /Sunan Panggung. yang dimakamkan di dusun Kutan, Desa Jatirejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo. Makamnya terletak di bukit pinggir sungai Progo. Beberapa orang menganggap antara Ki Cakrajaya dan Sunan Panggung adalah orang yang sama.
Menurut hikayat, pada suatu saat ia mengikuti anjuran Sunan Kalijaga untuk mengasingkan diri di suatu hutan untuk konsentrasi beribadah kepada Allah. Di tengah lelakunya itu, hutan tersebut terbakar, tetapi ia tidak mau menghentikan tapanya, sesuai pesan sang guru untuk jangan memutus ibadah, apapun yang terjadi, sampai sang guru datang menjenguknya. Demikianlah, ketika kebakaran berhenti dan Sunan Kalijaga datang menjenguknya, dia dapati Cakrajaya telah menghitam hangus, meskipun tetap sehat wal afiat. Maka digelarilah ia dengan Sunan Geseng.
Makam Sunan Geseng terletak di Dusun Jolosutro, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Letaknya kira-kira 2 km di sebelah kanan Jalan Yogyakarta-Wonosari Km. 14 (kalau datang dari Yogyakarta). Setiap tahun ada perayaan dari warga setempat untuk menghormati Sunan Geseng. Selain di dekat Pantai Parangtritis, Jogjakarta, makam Sunan Geseng juga dipercaya terdapat di sebuah desa yang bernama Desa Tirto, di kaki Gunung Andong-dekat Gungung Telomoyo-secara administratif di bawah Kecamaan Grabag, Kabupaten Magelang Jawa Tengah.
Masyarakat sekitar makam khususnya, dan Grabag pada umumnya, sangat mempercayai bahwa makam yang ada di puncak bukit dengan bangunan cungkup dan makam di dalamnya adalah sarean (makam) Sunan Geseng.
Pada Bulan Ramadhan, pada hari ke-20 malam masyarakat banyak yang berkumpul di sekitar makam untuk bermunajat. Selain itu, di Desa Kleteran (terletak di bawah Desa Tirt) juga terdapat sebuah Pondok Pesantren yang dinamai Ponpes Sunan Geseng.
Ada sebuah makam yang konon juga makam Sunan Geseng, tepatnya dihutan di atas bukit kapur kurang lebih 10 km disebelah timur kota tuban jawa timur, yang konon juga sunan geseng bertapa di situ sampai akhirnya hutan terbakar, dan pada saat dia wafat dimakamkan disitu, karena di dusun geseng tersebut terdapat sebuah makam yang di atasnya terdapat batu nisan, dan banyak di ziarahi orang, dan dari situlah para peziarah yang pada umumnya berziarah di makam sunan Bonang di tuban, atau di makam Syeh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi, selalu menyempatkan untuk berziarah ke makam Sunan Geseng tersebut.
Masjid Sunan Geseng terdapat di Bagelen, Purworejo. Beberapa cerita rakyat menyebutkan bahwa setelah lulus menjadi wali, Sunan Geseng kembali ke Purworejo. Dalam perjalanannya melewati Pegunungan Menoreh, salah satunya adalah di daerah Teganing, dekat Waduk Sermo. Beliau meninggalkan jejak "batur" atau pondasi calon pondok pesantren yang sedianya akan ia bangun.
Si Pahit Lidah merupakan cerita rakyat yang berasal dari daerah Sumatera Selatan, Kabupaten Kaur. Cerita rakyat ini menceritakan tentang tokoh masyarakat yang terkenal yaitu Serunting Sakti. Dia terkenal dengan kesaktian dan kebaikannya di masyarakat setempat. Panggilan yang diberikan kepadanya diambil dari sifatnya yang jarang mengeluarkan suaranya. Faktor yang mempengaruhi dia jarang berbicara karena setiap kata yang diucapkannya dapat berdampak bagi orang sekitarnya yang akan menjadi kenyataan. Kisah si pahit lidah sendiri memiliki dua versi dalam ceritanya. Pada versi pertama yaitu kisah tentang si pahit lidah bersama istri dan adik iparnya yang mengalami perselisihan.
Centini merupakan sebuah sinetron yang ditayangkan di MNCTV mulai 20 Januari 2016 dengan nama Centini Manis. Sinetron ini dibintangi oleh Dewi Perssik, Baim Wong, dan Lian Firman sebagai pemeran utama. Berawal dari TVM "Centini" yang tayang di RCTI diangkat menjadi sebuah sinetron yang tayang di MNCTV.
Dimana Kau Ibu... adalah film Indonesia yang dirilis pada tahun 1973 dengan disutradarai oleh Hasmanan. Film ini dibintangi antara lain oleh Lenny Marlina dan Rano Karno.
Komando Samber Nyawa adalah film Indonesia tahun 1985 dengan disutradarai oleh Eddy G. Bakker dan dibintangi oleh Barry Prima dan Advent Bangun.