Daftar Acara Televisi:
The Storm Warriors (Hanzi tradisional: II; Hanzi: II) adalah sebuah film aksi dan seni bela diri asal Hong Kong diproduksi pada tahun 2009. Sutradara film ini adalah Saudara Pang (Danny Pang, Oxide Pang), dan dibintangi Aaron Kwok, Ekin Cheng, Simon Yam, Charlene Choi, dan Nicholas Tse. Film ini dirilis oleh distributor Universe Films Distribution Co. Ltd. pada 17 Desember 2009. Film ini adalah sekuel di serial Fung Wan, The Storm Riders.
Asal Tahu Saja adalah film Indonesia tahun 1984 dengan disutradarai oleh Nawi Ismail dan dibintangi oleh Eva Arnaz dan Benyamin S.
Mayavi Maling (Bahasa Indonesia: Putri Raja) adalah serial televisi drama fantasi India yang ditayangkan perdana di Star Bharat pada tanggal 1 Mei dan berakhir pada tanggal 18 Agustus 2018. Bertempat di dunia fantasi, acara ini dibintangi oleh Neha Solanki, Vaani Sood dan Gracy Goswami sebagai tiga putri Pranali, Eshwarya dan Garima. Aktor Shakti Anand mengarang peran Shiladitya, ayah para putri dan Raja Maling, sedangkan Harshad Arora, berperan sebagai Angad, Pangeran Mahapuram yang kuat dan jahat, kerajaan tetangga.Serial ini juga dialihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Mayavi yang ditayangkan di ANTV pada tanggal 2 November 2023 hingga 18 November 2023.
Lingsir Wengi adalah tembang Jawa yang cukup populer di kalangan masyarakat Jawa modern. Masyarakat Jawa pada masa kini mengenal tembang ini dari lagu pop Campursari yang dipopulerkan oleh penyanyi Nurhana (1995, produksi Daksa Records). Kemudian di tahun 2006 Lingsir Wengi muncul sebagai lagu yang dinyanyikan oleh seorang pemeran dalam film Kuntilanak karya sutradara Rizal Mantovani (2006, MVP Pictures). Apabila ditelusuri jauh ke belakang, masyarakat Jawa di masa lalu sesungguhnya tidak mengenal tembang Jawa dengan judul Lingsir Wengi seperti halnya masyarakat Jawa yang hidup pada masa kini. Di abad ke-15, masyarakat Jawa - khususnya yang tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur - mengenal sebuah tembang yang berjudul Rumeksa ing Wengi karya Sunan Kalijaga. Meskipun begitu, sebagian masyarakat Jawa di masa kini menganggap tembang Lingsir Wengi memiliki makna konotatif sama seperti halnya makna yang terkandung dalam tembang Rumeksa ing Wengi karya Sunan Kalijaga.[1]